TOP

Sungai Ambawang

Jumat malem, aku pergi ke tempat nenekku. Daerahnya cukup jauh di pelosok. Perjalanan menggunakan sepeda motor menempuh waktu sekitar setengah jam. Tahu sendirilah di kota kecil yang tidak macet, perjalanan setengah jam bisa menempuh jarak yang lumayan. Perjalanan melewati sebuah desa yang bernama desa jawa tengah, desa ini isinya mayoritas orang jawa, dan pergaulan sehari-hari juga menggunakan bahasa jawa. Kemudian melewati perkampungan orang madura, selanjutnya masuk ke kampung yang sebagian besar penghuninya orang pacitan. Heran juga, ternyata cukup banyak orang pacitan yang merantau ke sini, sampai sekitar satu RT/RW.
Kampung nenekku disebut laut, meskipun tidak ada laut di sana. Yang ada adalah semacam pelabuhan kecil di sungai ambawang tempat kapal yang disebut motor air berlabuh menurunkan dan mengangkut penumpang. Tempat ini sangat sepi, aku seneng berdiri di dekat “pelabuhan” melihat aliran air sungai yang warnanya coklat hitam. Gile jek, aku mandi dengan air sungai yang berwarna coca-cola itu. Kata orang, kalo sudah mandi dengan air sungai itu, pasti nanti akan kembali lagi ke sana, dan kecantol di sana heheh. Meskipun warnanya hitam, tapi nggak seperti jakarta. Di sini sungai berwarna hitam karena akar-akaran dan zat organik di sekitar sungai yang tentu saja tidak berbahaya bagi kesehatan. Lha kalo sungai berwarna hitam di jakarta, itu udah nggak jelas campuran limbah pabrik apa saja, ngeri coy.. Kalau siang di Pontianak cukup panas, namun malam itu aku merasa dingin, mungkin karena daerang ambawang termasuk pelosok, sehingga tidak sepanas pontianak kota.
Esoknya, hari sabtu, aku mampir ke tempat bude kasiatin yang ada di desa jawa tengah. Di sana aku melihat proses penorehan karet. Menarik juga karena selama ini aku hanya melihatnya di televisi. Pohon karet yang sudah ditoreh batangnya, diberi tempat penampungan berupa batok kelapa. Setelah beberapa jam, maka getah karet akan mengumpul di batok tersebut. Kemudian getah2 tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah wadah untuk didinginkan agar menjadi keras. Proses pendinginan ini menggunakan sejenis cuka agar bisa lebih cepat. Kemudian setelah getah mengeras, maka getah tersebut akan digiling agar menjadi tipis. Setelah itu baru karet bisa dijua ke pabrik pengolahan karet.

Leave a Reply

Your email is never published nor shared.

You may use these HTML tags and attributes:<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>