TOP

System Administrator Appreciation Day

If you can read this, thank your sysadmin

A sysadmin unpacked the server for this website from its box, installed an operating system, patched it for security, made sure the power and air conditioning was working in the server room, monitored it for stability, set up the software, and kept backups in case anything went wrong. All to serve this webpage. A sysadmin installed the routers, laid the cables, configured the networks, set up the firewalls, and watched and guided the traffic for each hop of the network that runs over copper, fiber optic glass, and even the air itself to bring the Internet to your computer. All to make sure the webpage found its way from the server to your computer. A sysadmin makes sure your network connection is safe, secure, open, and working. A sysadmin makes sure your computer is working in a healthy way on a healthy network. A sysadmin takes backups to guard against disaster both human and otherwise, holds the gates against security threats and crackers, and keeps the printers going no matter how many copies of the tax code someone from Accounting prints out. A sysadmin worries about spam, viruses, spyware, but also power outages, fires and floods. When the email server goes down at 2 AM on a Sunday, your sysadmin is paged, wakes up, and goes to work. A sysadmin is a professional, who plans, worries, hacks, fixes, pushes, advocates, protects and creates good computer networks, to get you your data, to help you do work — to bring the potential of computing ever closer to reality. So if you can read this, thank your sysadmin — and know she is only one of dozens or possibly hundreds whose work brings you the email from your aunt on the West Coast, the instant message from your son at college, the free phone call from the friend in Australia, and this webpage.

Show your appreciation Friday, July 28th, 2006, is the 7th annual System Administrator Appreciation Day. On this special international day, give your System Administrator something that shows that you truly appreciate their hard work and dedication. Let’s face it, System Administrators get no respect 364 days a year. This is the day that all fellow System Administrators across the globe, will be showered with expensive sports cars and large piles of cash in appreciation of their diligent work. But seriously, we are asking for a nice token gift and some public acknowledgement. It’s the least you could do. Consider all the daunting tasks and long hours (weekends too.) Let’s be honest, sometimes we don’t know our System Administrators as well as they know us. Remember this is one day to recognize your System Administrator for their workplace contributions and to promote professional excellence. Thank them for all the things they do for you and your business. (Dicolong dari http://www.sysadminday.com/)

Read More
TOP

Gempa Tidak Bisa Diprediksi

Banyaknya isu yang beredar yang mengatakan bahwa akan terjadi gempa pada hari ini jam sekian ternyata banyak membuat resah. Silahkan cermati berita ini

Pada alinea terakhir tertulis: Kita mengeluarkan laporan gempa secara otomatis, kurang dari 15 menit setelah gempa. Alat pendeteksi itu bukan untuk memprediksi, karena negara manapun belum ada yang mampu memprediksi akan adanya gempa. Kalau alat untuk memprediksi tsunami memang sudah ada,” jelas Suharjono

Jadi, jangan mudah terpancing dengan isu yang mengatakan akan terjadi gempa pada hari ini jam itu. Tetap tenang dan waspada :)

Read More
TOP

BMG Buka Hotline Gempa vis SMS 2303

BMG Buka Hotline Gempa vis SMS 2303 (Dikuti tanpa ijin dari Harian Indo.Pos, Sabtu 22 Juli 2006, hal 3)

Untuk mempercepat penyampaian informasi gempa dan akurasinya, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) membuka layanan khusus. Informasi dikirim melalui pesan singkat (SMS) nomor 2303. Sedangkan layanan telepon 24 jam melalui nomor (021) 4246321. Selain menerima SMS dari BMG, masyarakat bisa mengklarifikasi informasi gempa ke BMG lewat nomor ponsel tersebut. Tarif per SMS sesuai provider dengan kisaran Rp 350 per pengiriman. BMG juga merintis penyampaian informasi ke sejumlah pejabat daerah yang berdekatan dengan titik episentrum gempa. Setiap ada gempa, SMS dari BMG otomatis akan tersebar ke nomor telepon pejabat tersebut. “Kita sedang mengumpulkan database nomor ponsel pejabat se-Indonesia, khususnya gubernur dan bupati. Mereka diharapakan bisa menginformasikan ke warganya,” jelas Kabid Seismologi Teknik dan Tsunami BMG Fauzi di Jakarta kemarin. BMG mendapat dukungan penuh dari semua provider ponsel. Televisi dan radio juga bersedia membuka breaking news untuk menginformasikan gempa. Kelak setiap informasi yang disampaikan BMG disertai logo. Masyarakat bisa membedakannya dengan informasi dari luar BMG. Informasi di luar nomor 2303 dianggap bukan tanggung jawabnya. “Itu bukan dari BMG,” kata Kepala Pusat Gempa Nasional (PGN) Soeharjono. BMG juga berupaya mengoptimalkan penyebaran informasi dini gempa dengan memanfaatkan luasnya jaringan institusi militer dan kepolisian. BMG akan menyebarkan lewat satu nomor di level pusat dan bisa tersebar secara berjenjang hingga jaringan kantor wilayah daerah. Rencanan tersebut telah dibahas dalam pertemuan dengan sejumlah instansi terkait, provider telepon seluler (ponsel), dan media massa, khususnya televisi dan radio. Rapat dua sesi itu dipimpin Menkominfo Sofyan Djalil dan Kepala BMG Sri Woro Harijono. (agm)

Read More
TOP

Goro-goro di Kotaku

Jumat malem aku tidur lebih awal, karena capek banget habis nguli pada acara raker di kantor. Sekitar jam 10an malam aku ditelpon temenku (kebetulan deweke intel tentara), dia ngasih tahu bahwa di Pacitan sedang ada isu akan adanya gempa sekitar jam 22.00 malam itu. Infonya diberitakan di radio Elshinta (ora promosi radio lho). Dia bilang agar aku menghubungi keluargaku karena dia juga kesusahan menghubungi keluarganya. Aku sih setengah2 aja bilang iya, karena selain masih setengah sadar habis bangun tidur juga aku pikir itu paling-paling cuman isu.

Beberapa menit kemudian dia telpon lagi ngasih tahu bahwa dia susah mengubungi keluarganya karena keluarganya ternyata sudah mengungsi di masjid.

Weladalah, jebul iki serius to…

Aku langsung telpon rumah, gak ada yang ngangkat. Aku telpon HP Ibuku tapi cuman bisa beberapa menit karena baterainya ngedrop, tapi beliau sempat ngasih tahu kalau beliau ada di ruamh bulik. Aku langsung telpon rumah bulik. Dan akhirnya aku dapat info bahwa Pacitan sedang panik karena ada berita bahwa malam itu akan ada gempa pada sekitar pukul 22.00, dan informasi ini resmi datang dari pemerintah (a.k.a kepolisian dan pemda).

Sebagian keluargaku ada yang mengungsi di Sedeng yang tempatnya tinggi, sementara ibuku berkumpul di rumah bulik belakang rumah, sedangkan bapakku memilih tetap di rumah. Mungkin beliau gak percaya dengan berita (isu) tersebut. Aku langsung memantau via radio Elshinta karena saat itu ada kontributor berita dari Pacitan (thanks mas Purwo atas update informasinya).

Kebetulan jumat siangnya aku sempat membaca berita di internet tentang kasus Menkominfo yang dituntut oleh Institut Studi Arus Informasi. Dari situ aku menangkap bahwa yang namanya gempa itu tidak bisa diprediksi (apalagi sampai ke jam-nya segala), sedangkan tsunami (hanya) bisa diprediksi sesudah terjadi gempa, dengan cara mengukur kekuatan gempa, letak pusat gempa dan keadalaman dari permukaan laut sehingga sampai pada kesimpulan apakah gempa tsb bisa berpotensi menimbulkan gelombang tsunami atau tidak. Jadi kesimpulanku saat itu, berita itu adalah isu belaka.

Aku mennyampaikan hal itu pada keluargaku agar mereka tidak panik, dan mapaknya mereka juga tidak terlalu panik (setidaknya kusimpulkan begitu karena bapakku memilih untuk tetap tinggal di rumah). Yang heboh justru adikku yang di Surabaya, dia khawatir kenapa bapak tidak ikut mengungsi. Setelah aku sampaikan kesimpulanku tadi, namapknya dia agak tenang :)

Sampai dengan tengah malam (aku terus mendengarkan update dari radio), ternyata isu itu benar-benar tidak terbukti. Dan masyarakat berangsur-angsur meninggalkan tempat pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing. Aku juga dapat berita dari temenku yang tinggal di malang dan kebetulan saat itu sedang pulang ke Pacitan. Sebelumnya masyarakat banyak mengungsi ke tempat-tempat tinggi di daerah Mentoro, Giri Sampurno dan juga Sedeng.

Dari seorang kawan lain aku peroleh info bahwa berita (isu) tersebut memang berasal dari otoritas pemerintah setempat. AKu belum tahu darimana mereka memperoleh sumber berita ini dan bagaimana mereka memfilter berita tersebut sehingga mereka bisa sampai pada keputusan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Masyarakat Pacitan masih banyak yang berpola masyarakat tradisoonal, dan dengan adanya berita ini mereka tentu saja banyak yang panik. Bahkan saking terburu-burunya mengungsi, sampai ada 2 kejadian kecelakaan lalu lintas, salah satunya di sekitar terminal. Terus terang aku heran bagaimana ini bisa terjadi. Bagaimana mekanisme filter informasi pada aparat yang berwenang? Apakah mereka tidak mengkonfirmasikan berita itu kepada BMG atau LIPI? Banyak sarana yang bisa mereka gunakan untuk mengecek kebenaran berita itu, meraka bisa langsung mengontak BMG, mereka bisa menggunakan jaringan birokrasi ke atas (provinsi/kementerian), mereka bisa menggunakan jaringan kepolisian/militer yang tentu saja bisa diandalkan. Atau mereka juga sudah keburu panik sehingga tidak terpikir untuk mengecek kebenaran info tersebut? Atau mereka takut jika tidak menyebarkan ke masyarakat, mereka akan diperkarakan seperti Menkominfo? Tapi ya sudahlah, yang aku dengar sekarang keadaan sudah berangsur tenang. Kegiatan masyarakat sudah mulai berjalan normal seperti sedia kala.

Semoga hal ini tidak terulang lagi. Dan semoga bencana-bencana alam yang sesungguhnya juga segera berhenti melanda berbagai wilayah di negeri ini.

Read More
TOP

Short time, manythings happened

Seminggu terakhir ini banyak sekali kejadian “besar” yang kualami.  Rabu, Kamis dan Jumat, tiga hari kerja terakhir minggu kemarin aku sibuk banget. Di kantor ada Raker dan kebetulan aku ikut menjadi kuli panggul dalam kegiatan itu. Istilah kuli panggul bisa menjadi kata kiasan ataupun bisa mempunyai makna yang sesungguhnya. Apa saja bisa terjadi di kantorku ini. Pemberitahuan bahwa aku dilibatkan sebagai kuli panggul aku terima 3 hari sebelum acara berlangsung, itupun tanpa deskripsi dan jadwal pekerjaan yang jelas. bahkan sampai dengan hari H pelaksanaan, aku masih belum tahu jadwal dan pekerjaan yang harus kulakukan. Jadi tugasku adalah menunggu, dan menunggu berjam-jam sampai dengan panggilan angkat-junjung datang. Apa yang diangkat? yang jelas masih ada hubungannya dengan TI (walaupun sedikit).

Yang lebih menghebohkan adalah hari kedua. Ada 6 kelompok pembahas yang masing-masing menempati ruangan yang berbeda. Aku and the gank sudah menyiapkan beberapa keperluan yang memang sudah dijadwalkan untuk kami sediakan. Dan sekitar jam 9 masing2 tim sudah mulai bekerja. Jam 10an mendadak ada order dari bosku bahwa keenam ruang tersebut harus segera diberikan akses ke jaringan, untuk dipakai jam 13.00. Edan pikirku, ini perintah harusnya diberitahukan 3 hari sebelumnya, yang ada malahan 3 jam sebelumnya. Aku sempet protes dengan nada agak tinggi, “Kok baru sekarang sih?” Tapi yang namanya buruh mana bisa menolak. Akhirnya kami menjadi manusia-manusia super yang bisa apa saja demi terhubungnya keenam ruangan.

Belum genap keenam ruangan itu terpasang line ke jaringan, ada perintah baru lagi bahwa 2 dari enam ruang tersebut juga perlu dipasang LAN di dalamnya untuk sekitar 10an client di masing2 ruang. Edan.. eh ora ding.. Uuueeediiaaannnn tuenann…. Kami harus menggandakan ke-super-an kami untuk melakukan tugas itu. Ngawur tenan… ngasih perintah sak enake dewe. Ning yo piye maneh, sekali lagi namanya buruh panggul. Aku nggak ngerti jalan pikiran si pemberi perintah itu.

Hari jumatnya, aku juga mengalami ke-nggondok-an besar. Rencananya hari itu ada rapat jam 9 pagi. Tapi malam sebelumnya si pemimpin rapat sempat memberi tahu secara lisan kepadaku bahwa rapat ditunda jam 13.00. Menjelang jumatan aku baru tahu bah wa rapat tetep jalan jam 9 dan informasinya tidak sampai ke aku. Asem tenan… yo wis terserah nek aku ora dianggep perlu melu rapat iku, tapi yang jelas aku punya catatan tersendiri kepada pemimpin rapat tsb bahwa aku akan bingung: mana kata-kata dia yang seharusnya kupegang dan mana kata2nya yang seharusnya kuabaikan.

Jumat malem ada kejadian yang heboh juga, tapi aku tulis pada posting tersendiri.

Read More
TOP

Gempa hi…

Posting ini ditulis kira-kira 5 menit sesudah ada gempa (lagi). Lagi enak2 komputeran tiba-tiba mak sliyutt… sliyuut… Kami langsung berpandang-pandangan,

“Gempa…”

Kontan kami langsung lari keluar. Eh, di lobi ada satpam malah kebingungan,

“Gempa apa mas??”

Wis, pokoke aku langsung keluar. Ternyata kemudian orang-orang pada keluar juga. Katanya yang di lantai atas-atas terasa kenceng banget. Lha wong aku saja yang di lantai 1 juga kerasa mak sliyat-sliyut je…  Wis ah, mulih disik, selak sliyat-sliyut maneh :)

Read More
TOP

Gawat….

Gawat tenan iki, berita yang mebuat shock… Tolong, singkirkan tali dan benda tajam dari hadapanku Oh… dunia terasa gelap…. http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=106171

Read More
TOP

(Penerbit) Majalah Gila

Geram bener membaca berita tentang telah diterbitkannya edisi ke-sekian majalah yang gila itu. Jelas sudah bahwa mereka memang hanya mengejar profit semata, tanpa pernah berpikir bagaimana menyelamatkan bangsa yang sudah terpuruk ini. Mereka dan orang2 yang juga menerbitkan majalah serupa mungkin tidak pernah berpikir kalau majalah seperti itu sampai jatuh ke tangan anak2 tanggung, yang secara biologis sudah matang namun secara emosional masih mengambang, maka akan rawan untuk terjadi perilaku menyimpang. Atau memang mereka tahu itu tapi mereka tidak perduli, bahkan pun jika itu terjadi pada anak kandung mereka sendiri. Mereka tidak perduli hal itu, yang mereka perdulikan adalah oplah dan penjualan. Memang Gila…

Pemerintah seharusnya segera turun tangan, basmi majalah itu dan majalah sejenis yang sudah jelas2 merupakan penyimpangan dari kebebasan pers. Pers bebas seharusnya diartikan sebagai kebebasan dan keterbukaan informasi dan bukan kebebasan dan keterbukaan baju dan celana.  Dan kalangan pers sendiri seharusnya malu bahwa ternyata mereka sendiri tidak mampu mendefiniskan kata “kebebasan pers” itu sendiri.  Kita mungkin sudah terjebak dalam euforia kebebasan, bahwa kita anti terhadap apa yang namanya “kebebasan terbatas”. Bagi kita, yang namanya kebebasan itu ya bebas sebebas-bebasnya tanpa ada orang atau pihak yang mengatur ini atau mengatur itu. Kalau memang terjemahannya itu, buat apa ada agama, buat apa ada sekolah, buat apa negara dan bahkan buat apa semua yang kita lakukan semasa hidup.

Read More
TOP

Surup: bahkan bencana pun tidak akan merubah hewan menjadi manusia

Ih, judulnya serem banget.

Iya, memang. AKu juga ngerasa serem tuh ama judul tsb. Itu adalah tema Kenduri Cinta malam sabtu kemarin. Kenduri Cinta adalah sebuah “forum” diskusi dan berbagi secara santai sambil nyanyi-nyanyi, dilaksanakan sebulan sekali, pada hari jumat minggu kedua. Malam sabtu kemarin, selain Cak Nun, hadir Ali Sahab (sutradara kawakan), Mbak Berta, tamu dari Papua New Guina (lupa namanya), tamu dari belanda (imigran dari papua, lupa namanya), Mbah Kuro, dan tentu saja Mbah Surip dan beberapa pembicara lain, dan tentu saja beberapa ratus jamaah Kenduri Cinta.

Aku ke sana sama temen kantor, di sana ketemu Mas M*nt*K dan istrinya, manten anyar coy… jalan-jalan terus heheh. Beberapa yang didiskusikan antara lain soal dunia pertelevisian kita yang sudah jelas-jelas sebagian besar bersi sampah. Acaranya tidak jelas arahnya, hanya kejar target dan setoran: berita kriminal, selebritis, bahkan sinetron yang ada ilahi-ilahinya juga busuk. Sinetron itu bahkan “mampu” menggambarkan seperti apa surga dan neraka itu. Padahal Nabi Muhammad sendiri ketika suatu saat ditanya oleh sahabatnya, bagaimanakah keadaan surga itu, beliau berkata bahwa apa-apa yang ada di dunia ini tidak ada satupun yang bisa menjadi perumpamaan surga dan neraka. Dan sutradara-sutradara, produser-produser, artis-artis itu ternyata lebih hebat dari Rosulullah karena mereka bisa menggambarkan seperti apa surga dan neraka. Yah… produser dan sutradaranya aja banyak yang non muslim, bahkan pemainnya juga ada yang non muslim.

Hal lain yang didiskusikan adalah keangkuhan Jakarta terhadap daerah-daerah di pelosok yang seharusnya diperhatikan Oleh Jakarta. Cerita-cerita pedih dari kawan-kawan di daerah perbatasan juga banyak diungkap di situ. Hm… sebenarnya apa lagi yang bisa kita banggakan dari bangsa ini?

Read More
TOP

Professionalisme vs karepmu

“Oke mbak, jadi mbak minta saya untuk membantu mbak dalam pekerjaan ini?”

Iya, masa kamu gak mau bantu mbak sih?”

“Wah, kalau soal bantu-membantu, itu sudah jadi kewajiban kita. Tapi mengapa mbak minta saya? bukankah di tempat mbak sudah ada orang IT-nya?”

“Iya, tapi dia gak siip. Kurang sigap gitu loh, dan kalau boleh saya bilang skillnya masih kurang”

“Jadi mbak meminta saya membantu mbak karena skill saya? dengan kata lain lain karena professionalisme saya?”

“Iya betul. Saya yakin kamu bisa mengerti apa yang saya mau dan menerapkannya dalam bahasa IT”

“Apakah itu artinya orang IT yang sekarang ada di tempat mbak gak bisa memenuhi keinginan mbak?”

“Ya kurang lebih seperti itulah”

“Jadi mbak menganggap saya bisa memenuhi keinginan mbak?”

“Tentu saja, aku sudah bisa menilai kemampuan IT selama ini”

“Saya bingung mbak, keinginan mbak itu kontradiktif”

“Kenapa?”

“Mbak bilang karena keahlian saya, profesionalisme saya, mbak pikir saya bisa memenuhi keinginan mbak. Padahal apa yang menjadi keinginan mbak itu belum tentu merupakan sesuatu yang ideal dari sisi IT. Keinginan mbak itu ideal dari persepsi kebutuhan mbak saja. Dari sudut pandang seorang professional IT, bisa saja dalam suatu hal saya justru menentang keinginan mbak karena itu sangat tidak baik dari sisi IT. Jadi kalau mbak melihat saya adalah seorang professional IT, mbak tidak seharusnya berharap saya bisa memenuhi kemauan-kemaun mbak. Seharusnya mbak bilang pada saya agar saya memberikan advice yang professional, terlepas apakah itu sesuai dengan kemauan mbak atau tidak. Tapi kalau mbak tetap ingin agar kemauan-kemauan mbak terpenuhi, tidak seharusnya mbak datang kepada saya yang mbak anggap sebagai seorang professional IT”

“Lho tapi…”

“Jadi, sebenarnya mbak sama sekali tidak butuh seorang IT Professional, tapi mbak butuh pembantu umum yang bisa mengoperasikan komputer karena mbak sendiri terlalu malas belajar komputer. Dan mbak datang kepada orang yang salah jika mbak meminta saya untuk hal ini. Jika aku bisa melakukan hal ini, kenapa aku harus melakukan untuk mbak? Kenapa aku tidak melakukannya untuk diriku sendiri? Kenapa keahlian yang aku miliki tidak justru membuat aku menjadi “lebih”, tetapi justru mambawaku menjadi tumpuan pekerjaan tapi bukan tumpuan apresiasi?”

“Eh kamu kok gitu sih?”

“Ya… gimana ya… tapi ya maap, saya memang begitu”

“Lho.. lho..”

“Gak pake lho, mbak” …

Read More