“Oke mbak, jadi mbak minta saya untuk membantu mbak dalam pekerjaan ini?” “
Iya, masa kamu gak mau bantu mbak sih?”
“Wah, kalau soal bantu-membantu, itu sudah jadi kewajiban kita. Tapi mengapa mbak minta saya? bukankah di tempat mbak sudah ada orang IT-nya?”
“Iya, tapi dia gak siip. Kurang sigap gitu loh, dan kalau boleh saya bilang skillnya masih kurang”
“Jadi mbak meminta saya membantu mbak karena skill saya? dengan kata lain lain karena professionalisme saya?”
“Iya betul. Saya yakin kamu bisa mengerti apa yang saya mau dan menerapkannya dalam bahasa IT”
“Apakah itu artinya orang IT yang sekarang ada di tempat mbak gak bisa memenuhi keinginan mbak?”
“Ya kurang lebih seperti itulah”
“Jadi mbak menganggap saya bisa memenuhi keinginan mbak?”
“Tentu saja, aku sudah bisa menilai kemampuan IT selama ini”
“Saya bingung mbak, keinginan mbak itu kontradiktif”
“Kenapa?”
“Mbak bilang karena keahlian saya, profesionalisme saya, mbak pikir saya bisa memenuhi keinginan mbak. Padahal apa yang menjadi keinginan mbak itu belum tentu merupakan sesuatu yang ideal dari sisi IT. Keinginan mbak itu ideal dari persepsi kebutuhan mbak saja. Dari sudut pandang seorang professional IT, bisa saja dalam suatu hal saya justru menentang keinginan mbak karena itu sangat tidak baik dari sisi IT. Jadi kalau mbak melihat saya adalah seorang professional IT, mbak tidak seharusnya berharap saya bisa memenuhi kemauan-kemaun mbak. Seharusnya mbak bilang pada saya agar saya memberikan advice yang professional, terlepas apakah itu sesuai dengan kemauan mbak atau tidak. Tapi kalau mbak tetap ingin agar kemauan-kemauan mbak terpenuhi, tidak seharusnya mbak datang kepada saya yang mbak anggap sebagai seorang professional IT”
“Lho tapi…”
“Jadi, sebenarnya mbak sama sekali tidak butuh seorang IT Professional, tapi mbak butuh pembantu umum yang bisa mengoperasikan komputer karena mbak sendiri terlalu malas belajar komputer. Dan mbak datang kepada orang yang salah jika mbak meminta saya untuk hal ini. Jika aku bisa melakukan hal ini, kenapa aku harus melakukan untuk mbak? Kenapa aku tidak melakukannya untuk diriku sendiri? Kenapa keahlian yang aku miliki tidak justru membuat aku menjadi “lebih”, tetapi justru mambawaku menjadi tumpuan pekerjaan tapi bukan tumpuan apresiasi?”
“Eh kamu kok gitu sih?”
“Ya… gimana ya… tapi ya maap, saya memang begitu”
“Lho.. lho..”
“Gak pake lho, mbak” …