Geram bener membaca berita tentang telah diterbitkannya edisi ke-sekian majalah yang gila itu. Jelas sudah bahwa mereka memang hanya mengejar profit semata, tanpa pernah berpikir bagaimana menyelamatkan bangsa yang sudah terpuruk ini. Mereka dan orang2 yang juga menerbitkan majalah serupa mungkin tidak pernah berpikir kalau majalah seperti itu sampai jatuh ke tangan anak2 tanggung, yang secara biologis sudah matang namun secara emosional masih mengambang, maka akan rawan untuk terjadi perilaku menyimpang. Atau memang mereka tahu itu tapi mereka tidak perduli, bahkan pun jika itu terjadi pada anak kandung mereka sendiri. Mereka tidak perduli hal itu, yang mereka perdulikan adalah oplah dan penjualan. Memang Gila…
Pemerintah seharusnya segera turun tangan, basmi majalah itu dan majalah sejenis yang sudah jelas2 merupakan penyimpangan dari kebebasan pers. Pers bebas seharusnya diartikan sebagai kebebasan dan keterbukaan informasi dan bukan kebebasan dan keterbukaan baju dan celana. Dan kalangan pers sendiri seharusnya malu bahwa ternyata mereka sendiri tidak mampu mendefiniskan kata “kebebasan pers” itu sendiri. Kita mungkin sudah terjebak dalam euforia kebebasan, bahwa kita anti terhadap apa yang namanya “kebebasan terbatas”. Bagi kita, yang namanya kebebasan itu ya bebas sebebas-bebasnya tanpa ada orang atau pihak yang mengatur ini atau mengatur itu. Kalau memang terjemahannya itu, buat apa ada agama, buat apa ada sekolah, buat apa negara dan bahkan buat apa semua yang kita lakukan semasa hidup.