Seminggu terakhir ini banyak sekali kejadian “besar” yang kualami. Rabu, Kamis dan Jumat, tiga hari kerja terakhir minggu kemarin aku sibuk banget. Di kantor ada Raker dan kebetulan aku ikut menjadi kuli panggul dalam kegiatan itu. Istilah kuli panggul bisa menjadi kata kiasan ataupun bisa mempunyai makna yang sesungguhnya. Apa saja bisa terjadi di kantorku ini. Pemberitahuan bahwa aku dilibatkan sebagai kuli panggul aku terima 3 hari sebelum acara berlangsung, itupun tanpa deskripsi dan jadwal pekerjaan yang jelas. bahkan sampai dengan hari H pelaksanaan, aku masih belum tahu jadwal dan pekerjaan yang harus kulakukan. Jadi tugasku adalah menunggu, dan menunggu berjam-jam sampai dengan panggilan angkat-junjung datang. Apa yang diangkat? yang jelas masih ada hubungannya dengan TI (walaupun sedikit).
Yang lebih menghebohkan adalah hari kedua. Ada 6 kelompok pembahas yang masing-masing menempati ruangan yang berbeda. Aku and the gank sudah menyiapkan beberapa keperluan yang memang sudah dijadwalkan untuk kami sediakan. Dan sekitar jam 9 masing2 tim sudah mulai bekerja. Jam 10an mendadak ada order dari bosku bahwa keenam ruang tersebut harus segera diberikan akses ke jaringan, untuk dipakai jam 13.00. Edan pikirku, ini perintah harusnya diberitahukan 3 hari sebelumnya, yang ada malahan 3 jam sebelumnya. Aku sempet protes dengan nada agak tinggi, “Kok baru sekarang sih?” Tapi yang namanya buruh mana bisa menolak. Akhirnya kami menjadi manusia-manusia super yang bisa apa saja demi terhubungnya keenam ruangan.
Belum genap keenam ruangan itu terpasang line ke jaringan, ada perintah baru lagi bahwa 2 dari enam ruang tersebut juga perlu dipasang LAN di dalamnya untuk sekitar 10an client di masing2 ruang. Edan.. eh ora ding.. Uuueeediiaaannnn tuenann…. Kami harus menggandakan ke-super-an kami untuk melakukan tugas itu. Ngawur tenan… ngasih perintah sak enake dewe. Ning yo piye maneh, sekali lagi namanya buruh panggul. Aku nggak ngerti jalan pikiran si pemberi perintah itu.
Hari jumatnya, aku juga mengalami ke-nggondok-an besar. Rencananya hari itu ada rapat jam 9 pagi. Tapi malam sebelumnya si pemimpin rapat sempat memberi tahu secara lisan kepadaku bahwa rapat ditunda jam 13.00. Menjelang jumatan aku baru tahu bah wa rapat tetep jalan jam 9 dan informasinya tidak sampai ke aku. Asem tenan… yo wis terserah nek aku ora dianggep perlu melu rapat iku, tapi yang jelas aku punya catatan tersendiri kepada pemimpin rapat tsb bahwa aku akan bingung: mana kata-kata dia yang seharusnya kupegang dan mana kata2nya yang seharusnya kuabaikan.
Jumat malem ada kejadian yang heboh juga, tapi aku tulis pada posting tersendiri.