Jumat malem aku tidur lebih awal, karena capek banget habis nguli pada acara raker di kantor. Sekitar jam 10an malam aku ditelpon temenku (kebetulan deweke intel tentara), dia ngasih tahu bahwa di Pacitan sedang ada isu akan adanya gempa sekitar jam 22.00 malam itu. Infonya diberitakan di radio Elshinta (ora promosi radio lho). Dia bilang agar aku menghubungi keluargaku karena dia juga kesusahan menghubungi keluarganya. Aku sih setengah2 aja bilang iya, karena selain masih setengah sadar habis bangun tidur juga aku pikir itu paling-paling cuman isu.
Beberapa menit kemudian dia telpon lagi ngasih tahu bahwa dia susah mengubungi keluarganya karena keluarganya ternyata sudah mengungsi di masjid.
Weladalah, jebul iki serius to…
Aku langsung telpon rumah, gak ada yang ngangkat. Aku telpon HP Ibuku tapi cuman bisa beberapa menit karena baterainya ngedrop, tapi beliau sempat ngasih tahu kalau beliau ada di ruamh bulik. Aku langsung telpon rumah bulik. Dan akhirnya aku dapat info bahwa Pacitan sedang panik karena ada berita bahwa malam itu akan ada gempa pada sekitar pukul 22.00, dan informasi ini resmi datang dari pemerintah (a.k.a kepolisian dan pemda).
Sebagian keluargaku ada yang mengungsi di Sedeng yang tempatnya tinggi, sementara ibuku berkumpul di rumah bulik belakang rumah, sedangkan bapakku memilih tetap di rumah. Mungkin beliau gak percaya dengan berita (isu) tersebut. Aku langsung memantau via radio Elshinta karena saat itu ada kontributor berita dari Pacitan (thanks mas Purwo atas update informasinya).
Kebetulan jumat siangnya aku sempat membaca berita di internet tentang kasus Menkominfo yang dituntut oleh Institut Studi Arus Informasi. Dari situ aku menangkap bahwa yang namanya gempa itu tidak bisa diprediksi (apalagi sampai ke jam-nya segala), sedangkan tsunami (hanya) bisa diprediksi sesudah terjadi gempa, dengan cara mengukur kekuatan gempa, letak pusat gempa dan keadalaman dari permukaan laut sehingga sampai pada kesimpulan apakah gempa tsb bisa berpotensi menimbulkan gelombang tsunami atau tidak. Jadi kesimpulanku saat itu, berita itu adalah isu belaka.
Aku mennyampaikan hal itu pada keluargaku agar mereka tidak panik, dan mapaknya mereka juga tidak terlalu panik (setidaknya kusimpulkan begitu karena bapakku memilih untuk tetap tinggal di rumah). Yang heboh justru adikku yang di Surabaya, dia khawatir kenapa bapak tidak ikut mengungsi. Setelah aku sampaikan kesimpulanku tadi, namapknya dia agak tenang
Sampai dengan tengah malam (aku terus mendengarkan update dari radio), ternyata isu itu benar-benar tidak terbukti. Dan masyarakat berangsur-angsur meninggalkan tempat pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing. Aku juga dapat berita dari temenku yang tinggal di malang dan kebetulan saat itu sedang pulang ke Pacitan. Sebelumnya masyarakat banyak mengungsi ke tempat-tempat tinggi di daerah Mentoro, Giri Sampurno dan juga Sedeng.
Dari seorang kawan lain aku peroleh info bahwa berita (isu) tersebut memang berasal dari otoritas pemerintah setempat. AKu belum tahu darimana mereka memperoleh sumber berita ini dan bagaimana mereka memfilter berita tersebut sehingga mereka bisa sampai pada keputusan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Masyarakat Pacitan masih banyak yang berpola masyarakat tradisoonal, dan dengan adanya berita ini mereka tentu saja banyak yang panik. Bahkan saking terburu-burunya mengungsi, sampai ada 2 kejadian kecelakaan lalu lintas, salah satunya di sekitar terminal. Terus terang aku heran bagaimana ini bisa terjadi. Bagaimana mekanisme filter informasi pada aparat yang berwenang? Apakah mereka tidak mengkonfirmasikan berita itu kepada BMG atau LIPI? Banyak sarana yang bisa mereka gunakan untuk mengecek kebenaran berita itu, meraka bisa langsung mengontak BMG, mereka bisa menggunakan jaringan birokrasi ke atas (provinsi/kementerian), mereka bisa menggunakan jaringan kepolisian/militer yang tentu saja bisa diandalkan. Atau mereka juga sudah keburu panik sehingga tidak terpikir untuk mengecek kebenaran info tersebut? Atau mereka takut jika tidak menyebarkan ke masyarakat, mereka akan diperkarakan seperti Menkominfo? Tapi ya sudahlah, yang aku dengar sekarang keadaan sudah berangsur tenang. Kegiatan masyarakat sudah mulai berjalan normal seperti sedia kala.
Semoga hal ini tidak terulang lagi. Dan semoga bencana-bencana alam yang sesungguhnya juga segera berhenti melanda berbagai wilayah di negeri ini.