Sebelumnya, mohon maaf kalo judulnya terlihat kasar. Akan saya jelaskan kenapa kalimat di atas bisa muncul.
Mbah Surip, nama itu saat ini begitu tenar. Hampir setiap hari di televisi maupun radio selalu terdengar lagunya antara lain: Tak Gendong, Bangun Tidur, Telor Mata Safi dll. Saya mengenal (lebih tepatnya mengtahui) keberadaan mbah surip ini sudah lama, jauh sebelum dia terkenal sepeti sekarang ini. Mungkin akhir 2005 atau awal 2006 saya mulai sering datang ke acara Kenduri Cinta, yang rutin diadakan di TIM. Di acara tersebut, mbah surip juga sering muncul dan menghibur para jamaah.
Menurut Cak Nun, sudah belasan tahun Mbah Surip menemani Cak Nun di forum Padhang Mbulan dan Kenduri cinta, dan dari belasan tahun itu, Mbah Surip selalu menemani jamaah dengan lagu yang itu-itu saja “Tak Gendong”, “Bangun Tidur”, “Telor Mata Safi”, “Uka-uka” dan beberapa lagu lainnya. Dan setiap kali memetik gitar di depan jamaah, Mbah Surip selalu bercerita bahwa lagunya diciptakan ketika di Yordania, Mesir dll. Dan hebatnya, setelah belasann tahun bernyanyi dengan lagu yang sama dan pengantar yang sama, sampai saat ini tidak ada satu jamaahpun yang tidak tertawa kalau Mbah Surip naik podium. Kehadiran Mbah Surip adalah sebuah karunia Allah, yang dari sana kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa untuk bisa bahagia itu ternyata sangat sangat sederhana.
Tertawa-tertawa, bernyanyi, memetik gitar, nyruput kopi, merokok, kadang mengaji kalau pas lagi insyaf, sambil sesekali merasa sedikit pinter sehingga perlu mengobrol mengenai Indonesia. Itulah dinamika Kenduri Cinta.
Kembali ke subyek di judul. Cak Nun pernah mencoba menerjemahkan keberadaan Mbah Surip dengan “othak-athik mathuk” bahwa Surip itu berasal dari dua kata yaitu Asu dan Urip. Asu, itu berarti cinta (silahkan tanyakan kepada budayawan dan seniman manapun di jogja, pasti akan bilang demikian), bisa juga berarti ber- (Su-harto artinya berharta atau penuh harta). Sedangan Urip, artinya hidup. Jadi Mbah Surip itu berarti penuh dengan kehidupan, kehidupan yang penuh. Dengan hal apapun yang sederhana, Mbah Surip sudah berbahagia, dan kebahagiaan itulah inti kehidupan.
Aku sangat salut dengan way of life yang dipilih Mbah Surip. Banyak yang bilang bahwa beliau sebenarnya berasal dari keluarga kaya, beliau juga sebenarnya cukup educated. Tapi dengan semuanya, dia memilih way of life menggelandang di TIM dan sekitarnya, dan tetap berbahagia. Saat itu, selain kenduri cinta dan padhang mbulan, mungkin tidak ada yang kenal dan peduli dengan Mbah Surip.
Sekarang, semua orang kenal Mbah Surip. Mbah Surip juga sudah punya uang sangat banyak dari hasil rekaman dan Ring Back Tone. Semoga itu semua membawa kebahagiaan yang berlipat-lipat bagi seorang Surip. Aku tidak menyesalkan langkahnya, jutru aku mensyukurinya. Yang aku penasaran saat ini adalah: Bagaimanakah komentar Cak Nun?
Ada yang tahu?

berkat nama yang baik adalah barokah…
kalo cak Nun ngotak-atik SURIP dari kata ASU + URIP kalee buat guyonan biar tambah gayeng… haa..haa..haaa… ato mungkin si mbah mmg pengin nama bekennya dari ASU URIP ??? :p yang disingkat SURIP (menilik dari way of life yg dia jalani)
ASU ttp ae yang py kaki 4 dan kaing2… tapi kalo SU- setahuku dari pelajaran SMP dulu ttg sastra bermakna BAIK..
jadi kalo SURIP dari SU + URIP = hidup yang baik, kayaknya menjadi berkah bagi si mbah..
Wallohu a’lam bishshowab
Salam hormat dan doaku buat almarhum mbah SURIP..
bagiku dia adalah inspirasi..cerita kehidupannya adalah realita.. Allahu Akbar! Allah adalah sebaik2 pembuat rencana dan MAHA Berkehendak…
Innalillahi wainna ilaihi rooji’un..
relakan sang mbah pulang ke rahmatullah ya mas bronto….