“Menjaga pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia
dan di akhirat. Memelihara pandangan mata, memberi nuansa kedekatan
seorang hamba dengan Rabb-nya.
Menahan pandangan mata, bisa menguatkan
hati dan membuat orang lebih bahagia. Menjaga pandangan sungguh akan menutup pintu masuk setan ke dalam hati!” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
Kata2 bijak di atas yang lebih tepatnya dikatakan sebagai petuah, sungguh memiliki makna (baca: pesan moral) yang daleeemmm… bangets!
Maraknya kasus perceraian (yg mayoritas dipicu oleh perselingkuhan) berawal dari MATA (mata hati maupun dua buah bola mata diantara hidung manusia (baca: suami dan istri). Bila tidak pandai2 menjaga MATA (baca: hati dan pandangan), bukan tidak mungkin kehancuran sebuah hubungan (jalinan suci pernikahan) tinggal menunggu hari saja.
Apa sih yang kemudian menginspirasi saya untuk ‘ngeblog’ (baca: curhat) dengan tema ini? Tak lain dan tak bukan adalah berita perpisahan antara Aa dan Teteh. Entah mengapa saya koq ikut sedih dan ‘nggetuni’ (maaf, ini istilah nJawi, silahken dicari sendiri maksyudnya
) ya…? Orang yang berilmu tinggi, memiliki pemahaman lebih soal agama (aqidah dan akhlak) koq bisa ‘kejeglong’ ke dalam jurang perceraian? Kalau boleh saya berandai… Andai Aa tidak kepincut wanita lain dan tidak menyiramkan ‘madu’nya pada Teteh, tentu Teteh takkan jadi janda sekarang. Andai… ahh… Singkatnya, Aa ternyata kurang pandai menjaga MATA, setidaknya menurut saya.
(ini anu saya sendiri lho! kalau ada yg tersinggung ya maaf!)
~Thanks to Bapak Budi Gunardi, atas petuah2nya~
Good job! InsyaAlloh kita termasuk org2 yg slalu menjaga pandangan mata(hati). Salam.
Matur nuwun, salam kembali…