<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nDalem Kapurnaman &#187; mbah surip</title>
	<atom:link href="http://www.ndalemkapurnaman.com/tag/mbah-surip/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ndalemkapurnaman.com</link>
	<description>Sugeng Rawuh ing nDalem Kapurnaman</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 14:47:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mbah Surip: Surip=Asu Urip</title>
		<link>http://www.ndalemkapurnaman.com/2009/07/12/mbah-surip-suripasu-urip/</link>
		<comments>http://www.ndalemkapurnaman.com/2009/07/12/mbah-surip-suripasu-urip/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 12:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lukman Hadi Dwi Purnomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bangun tidur]]></category>
		<category><![CDATA[cak nun]]></category>
		<category><![CDATA[i love u full]]></category>
		<category><![CDATA[kenduri cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kyai kanjeng]]></category>
		<category><![CDATA[mbah surip]]></category>
		<category><![CDATA[padhang mbulan]]></category>
		<category><![CDATA[tak gendong]]></category>
		<category><![CDATA[TIM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ndalemkapurnaman.com/2009/07/12/mbah-surip-suripasu-urip/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, mohon maaf kalo judulnya terlihat kasar. Akan saya jelaskan kenapa kalimat di atas bisa muncul. Mbah Surip, nama itu saat ini begitu tenar. Hampir setiap hari di televisi maupun radio selalu terdengar lagunya antara lain: Tak Gendong, Bangun Tidur, Telor Mata Safi dll. Saya mengenal (lebih tepatnya mengtahui) keberadaan mbah surip ini sudah lama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya, mohon maaf kalo judulnya terlihat kasar. Akan saya jelaskan kenapa kalimat di atas bisa muncul.</p>
<div id="attachment_450" class="wp-caption aligncenter" style="width: 317px"><a href="http://www.ndalemkapurnaman.com/wp-content/uploads/2009/07/20060414.jpg"><img class="size-full wp-image-450 " title="Mbah Surip tanggal 14 April 2006" src="http://www.ndalemkapurnaman.com/wp-content/uploads/2009/07/20060414.jpg" alt="" width="307" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Mbah Surip tanggal 14 April 2006</p></div>
<p>Mbah Surip, nama itu saat ini begitu tenar. Hampir setiap hari di televisi maupun radio selalu terdengar lagunya antara lain: Tak Gendong, Bangun Tidur, Telor Mata Safi dll. Saya mengenal (lebih tepatnya mengtahui) keberadaan mbah surip ini sudah lama, jauh sebelum dia terkenal sepeti sekarang ini. Mungkin akhir 2005 atau awal 2006 saya mulai sering datang ke acara Kenduri Cinta, yang rutin diadakan di TIM. Di acara tersebut, mbah surip juga sering muncul dan menghibur para jamaah.</p>
<p>Menurut Cak Nun, sudah belasan tahun Mbah Surip menemani Cak Nun di forum Padhang Mbulan dan Kenduri cinta, dan dari belasan tahun itu, Mbah Surip selalu menemani jamaah dengan lagu yang itu-itu saja &#8220;Tak Gendong&#8221;, &#8220;Bangun Tidur&#8221;, &#8220;Telor Mata Safi&#8221;, &#8220;Uka-uka&#8221; dan beberapa lagu lainnya. Dan setiap kali memetik gitar di depan jamaah, Mbah Surip selalu bercerita bahwa lagunya diciptakan ketika di Yordania, Mesir dll. Dan hebatnya, setelah belasann tahun bernyanyi dengan lagu yang sama dan pengantar yang sama, sampai saat ini tidak ada satu jamaahpun yang tidak tertawa kalau Mbah Surip naik podium. Kehadiran Mbah Surip adalah sebuah karunia Allah, yang dari sana kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa untuk bisa bahagia itu ternyata sangat sangat sederhana.</p>
<p>Tertawa-tertawa, bernyanyi, memetik gitar, nyruput kopi, merokok, kadang mengaji kalau pas lagi insyaf, sambil sesekali merasa sedikit pinter sehingga perlu mengobrol mengenai Indonesia. Itulah dinamika Kenduri Cinta.<br />
Kembali ke subyek di judul. Cak Nun pernah mencoba menerjemahkan keberadaan Mbah Surip dengan &#8220;othak-athik mathuk&#8221; bahwa <strong>Surip </strong>itu berasal dari dua kata yaitu <strong>Asu </strong>dan <strong>Urip</strong>. <em>Asu</em>, itu berarti cinta (silahkan tanyakan kepada budayawan dan seniman manapun di jogja, pasti akan bilang demikian), bisa juga berarti ber- (Su-harto artinya berharta atau penuh harta). Sedangan <em>Urip</em>, artinya hidup. Jadi Mbah Surip itu berarti penuh dengan kehidupan, kehidupan yang penuh. Dengan hal apapun yang sederhana, Mbah Surip sudah berbahagia, dan kebahagiaan itulah inti kehidupan.</p>
<p>Aku sangat salut dengan <em>way of life</em> yang dipilih Mbah Surip. Banyak yang bilang bahwa beliau sebenarnya berasal dari keluarga kaya, beliau juga sebenarnya cukup educated. Tapi dengan semuanya, dia memilih way of life menggelandang di TIM dan sekitarnya, dan tetap berbahagia. Saat itu, selain kenduri cinta dan padhang mbulan, mungkin tidak ada yang kenal dan peduli dengan Mbah Surip.</p>
<p>Sekarang, semua orang kenal Mbah Surip. Mbah Surip juga sudah punya uang sangat banyak dari hasil rekaman dan <em>Ring Back Tone</em>. Semoga itu semua membawa kebahagiaan yang berlipat-lipat bagi seorang Surip. Aku tidak menyesalkan langkahnya, jutru aku mensyukurinya. Yang aku penasaran saat ini adalah: Bagaimanakah komentar Cak Nun?</p>
<p>Ada yang tahu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ndalemkapurnaman.com/2009/07/12/mbah-surip-suripasu-urip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
